Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2025

Keutamaan Bulan Rajab

Bulan Rajab memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam. Di bulan ke-7 dalam penanggalan kalender Hijriah ini terdapat banyak peristiwa penting sehingga menjadikan bulan ini sebagai salah satu bulan yang dimuliakan.

Selain itu, di bulan Rajab memiliki banyak keutamaan yang dapat meningkatkan pahala. Jadi, sebagai umat Islam, sebaiknya memanfaatkan bulan Rajab untuk memaksimalkan ibadah.

Lantas apa saja keutamaan bulan Rajab yang menjadikannya istimewa? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Keutamaan Bulan Rajab

Rajab adalah salah satu bulan yang istimewa dalam Islam. Di bulan ini terdapat banyak keberkahan dan keutamaan sehingga dapat diisi dengan melakukan berbagai amal saleh.

Berikut adalah beberapa keutamaan bulan Rajab:

1. Bulan Asyhurul Hurum

Dalam Islam terdapat empat bulan yang mulia atau asyhurul hurum, salah satunya bulan Rajab. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 9 yang artinya:

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS At-Taubah:36)

Disebut bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut terdapat larangan untuk berperang. Adapun bulan asyhurul hurum yaitu Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

2. Terjadinya Isra' Mi'raj

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan perjalanan ke langit. Pada Isra’ Mi’raj, Rasulullah menerima perintah salat lima waktu setelah diangkat ke langit.

Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab dan sering dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia.

3. Terdapat Peristiwa Penting

Keutamaan bulan Rajab selanjutnya adalah sebagai bulan yang memiliki peristiwa penting dalam Islam. Selain peristiwa Isra’ Mi’raj, pada bulan Rajab terjadi sejumlah kejadian penting, yaitu:

  • Sayyidah Aminah binti Wahb mulai mengandung Nabi Muhammad.

  • Imam Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW, lahir pada tanggal 13 Rajab.

  • Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah. Perang ini menunjukkan keteguhan dan ketabahan umat Muslim dalam menghadapi tantangan.

  • Wafatnya Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad.

  • Wafatnya Imam Syafi'i pada Rajab tahun 204 H dalam usia 54 tahun.

  • Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan Baitul Maqdis, Palestina, pada tanggal 27 Rajab 583 H.

4. Dilipatgandakan Pahala

Amalan dan rangkaian ibadah yang dilakukan saat bulan Rajab akan mendapatkan pahala yang berlipat. Hal ini sebagaimana penjelasan Imam al-Baghawi dalam kitab tafsirnya, yang memiliki arti:

Amal salih lebih agung (besar) pahalanya di dalam bulan-bulan haram (Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab). Sedangkan zalim pada bulan tersebut (juga) lebih besar dari zalim di dalam bulan-bulan selainnya.” (Imam al-Baghawi, Ma'alimut Tanzil fi Tafsiril Qur'an, [Beirut, Darul Ihya' at-Turats, cetakan keempat: 1417 H/1997 M], juz IV, halaman: 44).

Selain itu, dosa dan seluruh perbuatan maksiat yang kita lakukan juga akan mendapatkan balasan berlipat. Jadi, sebaiknya menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang Allah SWT.

5. Mustajab Saat Berdoa

Berdoa di bulan Rajab termasuk mustajab. Terutama pada saat malam satu Rajab, sebagaimana dijelaskan Imam Syafi'i dalam kitab al-Umm yang artinya:

"Telah sampai berita pada kami bahwa dulu pernah dikatakan: Sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam: malam Jumat, malam hari raya Idul Adha, malam hari raya Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab dan malam nishfu Sya'ban."

6. Bulan Sedekah

Rajab dikenal sebagai bulan sedekah. Bersedekah di bulan Rajab akan mendapatkan pahala dan dijauhkan dari api neraka.

Dalam suatu hadist, sebagaimana melansir dari NU Online, Rasulullah SAW menjanjikan sebuah istana di surga bagi yang bersedekah di bulan Rajab.

. عن عبد الله بن زبير رضى الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: من فرج عن مؤمن كربة فى شهر رجب وهو شهر الله الأصم, أعطاه الله تعالى فى الفردوس قصرا مد بصره ألا فأكرموا رجب يكرمكم الله عزوجل بألف كرامة

Artinya: “Barang siapa yang melonggarkan satu beban kehidupan sesama saudara mu’min di bulan Rajab, Allah akan membangunkan istana untuknya di surga firdaus yang luasnya sejauh pandangan matanya. Karena itu, muliakanlah bulan Rajab, pasti Allah akan memuliakanmu dengan seribu kemuliaan.”

7. Haram untuk Berperang

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bulan Rajab termasuk asyhurul hurum. Bulan Hijriah yang masuk dalam bulan haram, terdapat larangan untuk berperang. Hal ini karena umat Islam di masa lalu, sangat menghormati bulan ini sehingga tidak boleh ada pertikaian.

Selain itu, Rajab juga mendapat julukan lain yaitu Al-Ashamm atau artinya "yang tuli", serta disebut juga bulan yang damai. Dalam hal ini pada bulan ini tidak terdapat suara senjata dan pasukan perang.

Rasulullah SAW mengumumkan larangan perang suci pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah, kecuali untuk melindungi diri dari musuh. Pada momen ini, terjadi penyebaran Islam dengan cara damai.

Amalan Bulan Rajab

Mengingat banyaknya keistimewaan dan keutamaan bulan Rajab, sebaiknya kita mengisinya dengan ibadah dan berbagai amalan yang mendatangkan pahala.

Banyak umat Islam yang menjadikan bulan Rajab sebagai waktu untuk berlatih sebelum memasuki bulan Ramadan. Amalan tersebut meliputi berdoa, puasa, salat, sedekah, dan sebagainya.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini daftar amalan dan ibadah yang dianjurkan dilakukan selama bulan Rajab:

Membaca Doa Bulan Rajab

Pada bulan Rajab, terdapat hari mustajabnya doa, yaitu di malam 1 Rajab. Pada sebuah hadits Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan HR Bukhari, memiliki amalan doa saat memasuki bulan Rajab, yaitu:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Arab Latin: Allaahumma baariklanaa fii rajabawa sya'baana, wa ballighnaa ramadhaana.

Artinya: "Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami di bulan Ramadhan."

Selain di tanggal 1 Rajab, terdapat doa di hari Jumat terakhir bulan Rajab yang juga dapat Anda amalkan. Adapun doa jumat terakhir bulan Rajab, tepatnya saat khatib sedang di mimbar atau saat khutbah Jumat, adalah sebagai berikut:

أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Arab Latin: Ahmad Rasûlullâh Muhammad Rasûlullâh.

Artinya: Ahmad utusan Allah, Muhammad utusan Allah. (35x)

Mengisi Hari dengan Salat

Pada bulan yang baik ini, Anda juga disarankan untuk memperbanyak salat sunnah. Salat yang umum dilakukan meliputi:

  • Rawatib sebagai pendamping salat fardhu

  • Tahajud

  • Syuruq

  • Dhuha

  • Hajat

  • Tasbih

  • Witir

Puasa Sunnah Rajab

Selama bulan Rajab Rasulullah SAW selalu mengamalkan puasa sunnah, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya:

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman ibn Hakim al-Anshari berkata, aku bertanya kepada Sa’id ibn Jubair tentang puasa Rajab, padahal pada waktu itu di bulan Rajab, dia menjawab, aku pernah mendengar Ibn Abbas berkata, Rasulullah SAW berpuasa (Rajab) terus hingga kami berkata, beliau tidak berbuka, dan (pada waktu yang lain) beliau berbuka hingga kami berkata, nabi tidak puasa.” (HR. Muslim).

Puasa di bulan Rajab disunnahkan hari-hari utama, seperti puasa Senin dan Kamis, ayyamul bidh (tanggal 13, 14, dan 15), puasa Jumat, atau bisa juga melakukan puasa Daud (satu hari berpuasa dan satu hari tidak).

Jika Anda memiliki hutang puasa Ramadan, juga bisa melakukan qadha bersamaan dengan puasa sunnah Rajab. Namun, makruh hukumnya berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Rajab.

Berdzikir

Amalan di bulan Rajab berikutnya yaitu dengan memperbanyak dzikir. Amalan ini merupakan cara sederhana untuk mengingat Allah sekaligus untuk membuat hati lebih tentram.

Lafaz dzikir yang dapat dibaca adalah:

رب اغفرلى وارحمنى وتب علي

Artinya: “Ya Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, dan terimalah taubatku.

Dzikir tersebut dibaca pada pagi dan sore sebanyak 70 kali.

Perbanyak Istighfar

Selama bulan Rajab, Anda juga dianjurkan untuk istigfar. Sebab, dengan beristighfar Allah SWT untuk mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukan baik sengaja maupun tidak sengaja. O

Anda dapat mengamalkan bacaan istighfar bulan Rajab sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ وَأَعُوْذُبِكَ مِن شَرِّمَا صَنَعْتُ وَأَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي

فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.

Allaahumma anta rabbi, laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana 'abduka wa ana 'alaa 'ahdika wawa'dika mastatha'tu, wa a'uudzubika min syarri maa shana'tu wa abu-u laka binikmatika 'alayya wa abuu-u bidzambii faghfirlii fa-innahuu laa yanghfirudz dzunuba illaa anta.

Artinya: Ya Allah, Engkau-lah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu dan aku dalam genggaman Mu. Aku dalam perjanjian-Mu (beriman dan taat) kepada-Mu sekadar kemampuan yang ada padaku. Aku berlindung kepada-Mu daripada kejahatan yang aku lakukan. Aku mengakui atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan mengakui dosaku. Karena itu, aku memohon ampunan-Mu, dan sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa seseorang, kecuali Engkau, ya Allah.

Merayakan Isra Miraj

Kehadiran Isra’ Mi’raj adalah salah satu keistimewaan dari bulan Rajab. Peristiwa ini terjadi pada Jumat pertama bulan Rajab dan titik awal diwajibkannya salat lima waktu.

Banyak umat Islam di seluruh dunia yang merayakan malam Isra’ Mi’raj sebagai malam penuh renungan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata yang artinya: "Aku terus bolak-balik antara Rabb-ku dengan Musa Alaihissalam sehingga Rabb-ku mengatakan:

'Wahai Muhammad, sesungguhnya kewajiban salat itu lima kali dalam sehari semalam, setiap salat mendapat pahala sepuluh kali lipat, maka lima kali salat sama dengan lima puluh kali salat. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan, lalu ia tidak melaksanakannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan, dan jika ia melaksanakannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat melakukan satu kejelekan namun ia tidak melaksanakannya, maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali, dan jika ia melakukannya maka hanya dicatat sebagai satu kejelekan.’”

Sedekah dan Zakat

Bulan Rajab juga dikenal sebagai bulan sedekah. Pada bulan ini Allah SWT memberikan anjuran kepada umat-Nya untuk bersedekah. Bersedekah di bulan Rajab mendatangkan pahala berlipat.

Hal ini sesuai dengan sejumlah hadis Rasulullah SAW, salah satunya dilansir NU Online yang artinya:

Barangsiapa bersedekah di bulan Rajab, maka Allah akan menjauhkannya dari api neraka sejauh jarak tempuh burung gagak yang terbang bebas dari sarangnya hingga mati karena tua. Menurut sebagian pendapat, umur burung gagak mencapai lima ratus tahun.”

Tak hanya bersedekah, Anda juga dianjurkan untuk menunaikan zakat mal atau zakat harta di bulan ini ketika sudah mencapai nishab dan haulnya.

Itulah informasi terkait bulan Rajab yang penting untuk diketahui beserta amalan yang disunnahkan. Pastikan kita selalu berbuat kebaikan agar bulan Rajab menjadi bulan ladang pahala.

Jalani ibadah di bulan Rajab semakin berkah dan mudah bersama Bank Mega Syariah.

Bank Mega Syariah menyediakan berbagai layanan yang memudahkan Anda untuk beribadah, mulai dari kemudahan zakat, infaq, sedekah, dan wakaf di aplikasi M-Syariah

Selain berbagi, M-Syariah juga dilengkapi dengan fitur Berkah Islami untuk mengetahui jadwal salat, mencari arah kiblat, dan lokasi masjid terdekat.

Semoga informasi ini bermanfaat, ya!



Sabtu, 16 Maret 2024

Menyongsong Nuzulul Qur'an

Ketika malam Nuzulul Quran tiba, kaum muslimin bisa mengisinya dengan berbagai ibadah. Seperti apa? Dikutip dari buku Tentang Bagaimana Surga Merindukanmu oleh Ustazah Umi A Khalil, berikut amalannya.

1. Tilawah
Tilawah sama artinya dengan membaca Al-Qur'an. Pada momen Nuzulul Quran, umat Islam bisa mengisinya dengan membaca Al-Qur'an.

2. Berzikir
Amalan lainnya yang dilakukan untuk mengisi Nuzulul Quran adalah berzikir. Dari Aisyah RA, ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:

"Wahai Rasul, andaikan aku bertemu Lailatulqadar, doa apa yang bagus dibaca? Rasul menjawab: 'Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.' (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku." (HR Ibnu Majah)

3. Qiyamul Lail
Mengerjakan salat malam atau qiyamul lail juga menjadi salah satu amalan ketika Nuzulul Quran. Contoh dari ibadah ini ialah salat tarawih, witir, tahajud, dan lain sebagainya.

"Barang siapa bangun (mengerjakan qiyamul lail) di bulan Ramadan dengan dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni oleh Allah." (HR Bukhari dan Muslim)

4. Iktikaf
Iktikaf juga bisa ditunaikan untuk mengisi Nuzulul Quran. Pada dasarnya, iktikaf diartikan sebagai berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT.

Dari Aisyah RA ia berkata,

"Nabi Muhammad SAW beriktikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beriktikaf sepeninggal beliau," (HR Bukhari dan Muslim)

Itulah pembahasan mengenai Nuzulul Quran dan amalan yang bisa dikerjakan untuk mengisi momen tersebut. Semoga bermanfaat.

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah 

Sabtu, 09 Maret 2024

Agar Tak Lemas Ketika Puasa

 Di kala menjalani ibadah puasa, tak sedikit orang yang mengeluhkan dirinya menjadi lemas dan kerap mengantuk. Kondisi ini tentunya akan menghambat aktivitas sehari-hari, terlebih bagi mereka yang memiliki setumpuk pekerjaan. Nah, agar tetap produktif dan bertenaga di kala berpuasa, ikuti beberapa tips agar tidak mudah lemas saat puasa berikut ini.

Bila ingin tetap segar dan produktif selama menjalani ibadah puasa, maka mulailah dengan menyantap menu sahur yang sehat dan bergizi tinggi. Pastikan untuk minum air putih 8 gelas/harinya. Kemudian tidurlah secepatnya di malam hari, hindari begadang jika memang tak dibutuhkan. Jangan lupa untuk tetap berolahraga dan bila memang diperlukan, konsumsilah multivitamin sebagai penambah daya tahan tubuh.

Juga hindari minum teh dan kopi saat sahur, karena membuat seseorang menjadi sering buang air kecil dan menyebabkan cadangan cairan tubuh berkurang. Pun disarankan untuk santap sahur dekat waktu imsak. Dianjurkan untuk makan dan minum sahur jelang waktu imsak, karena ini lebih baik, karena tubuh mendapat cadangan energi lebih banyak.

Lantas jangan tidur siang berlebihan. Tidur siang minimal 30 menit dan usahakan tidur malam lebih awal untuk mengganti jam tidur yang berkurang saat puasa. Tetap makan buah dan sayur saat sahur dan berbuka, karena ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan serat, vitamin, mineral, dan zat bergizi lainnya.

Sumber : Indonesia Baik



Jumat, 22 September 2023

7 Keutamaan Hari Jumat Menurut Al-Qur’an dan Hadis

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Hari Jumat adalah penghulunya hari. Hari Jumat lebih ahung di sisi Allah, lebih Agung daripada Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri. Pada hari Jumat, seluruh kebaikan dilipatgandakan pahalanya. 

Namun, bagaimana sejarah awal penyebutan Hari Jumat sendiri? 

Hari diciptakan Allah SWT untuk mengetahui perjalanan hidup dan perhitungan masa. Allah telah menentukan jumlah hari ada tujuh yang terus berulang-ulang. Setiap kaum menyebut nama-nama hari itu sesuai dengan  korelasi masing-masing atau sesuai dengan kejadian-kejadian yang dianggap penting.

Dalam buku "Jum'at: Hari Bertabur Kebajikan" terbitan Al-Mawardi, Ustaz Saifuddin Aman menjelaskan, pada zaman jahiliyah sebelum Islam datang, nama-nama hari itu adalah hari ke-1 disebut "Awal". Kemudian, pada masa Islam disebut al Ahad (Ahad). 

Selanjutnya, hari kedua pada zaman jahiliyah disebut "Ahwan", kemudian pada masa Islam disebut "Al-Itsnain" (Senin). Hari ketiga disebut Jabar, yang kemudian di masa Islam disebut Al-Tsulatsa' (Selasa). 

Hari keempat pada zaman jahiliyah disebut "Dabar", yang kemudian di masa Islam disebut "Al-Arbi'a" (Rabu). Sedangkan hari kelima disebut "Mu'nas", dan kemudian pada masa Islam disebut "Al-Khamis" (Kamis). 

Lalu, hari keenam pada zaman jahiliyah disebut "Arubah", yang kemudian di masa Islam disebut dengan "Al-Jumu'ah" (Jumat). Sementara, hari ketujuh disebut dengan Syayyar, yang kemudian di masa Islam disebut dengan Al-Sabat (Sabtu). 

"Kalau kita cermati secara seksama penamaan hari ke-1 sampai hari kelima semuanya sangat sesuai dengan urutan angka atau disandarkan pada urutan bilangan," kata Ustaz Saifuddin.

Misalnya, hari ke-1 disebut dengan Ahad karena memang Ahad berarti bilangan satu atau pertama dalam bahasa Arab. Hari kedua disebut Itsnain karena memang isnain berarti dua dalam bahasa Arab. Hari ketiga juga disebut Tsulatsa' karena memang Tsulatsa' berarti tiga. 

Sama halnya dengan hari keempat disebut Arbi'a karena memang Arbi'a berarti empat. Sedangkan hari kelima disebut Khamis karena memang Khamis berarti lima. 

Jika disesuaikan dengan bilangan semestinya hari keenam disebut As-Sadas (enam) dan hari ketujuh disebut As-Saba' (tujuh). Tetapi mengapa hari keenam disebut al-Jum'ah dan hari ketujuh disebut As-Sabat? 

"Di sinilah mengapa hari yang keenam menjadi sangat istimewa bagi umat Islam dan hari ketujuh menjadi hari besar bagi umat Yahudi," jelas Ustaz Saifuddin. 

Dia menuturkan, Al-Jum'ah artinya berkumpul. Disebut al-Jum'ah karena memang pada hari itu semua umat Islam yang laki-laki diwajibkan untuk berkumpul di masjid menjalankan sholat Jumat. "Demikianlah hikmah penyebutan nama hari keenam yang dikemukakan oleh para ulama," katanya. 

Menurut riwayat, penyebutan nama Jumat pertama kali diucapkan oleh seorang pembesar keturunan Quraisy bernama Ka'ab bin Luayyi sebelum datang Islam. Abu Hilal Al-Askari menceritakan bahwa Ka'ab bin Luayyi mengumpulkan bangsa Quraisy dan memberikan pesan khusus kepada mereka. Dia berkata, 

"Sesungguhnya hari ini adalah hari Jumat.... Dengarkan baik-baik, kalian akan sadar! Belajarlah, kalian akan mengerti! Dalamilah, kalian akan paham! Malam itu gelap dan siang itu terang, bumi itu terhampar, langit itu tegak dan gunung itu pasak. Generasi zaman dulu sama seperti generasi zaman akhir, semuanya akan binasa. Maka sambunglah silaturrahim, peliharalah persaudaraan kalian, kembangkan harta kalian, baguskan amal kalian. Apakah kalian melihat ada orang yang hancur kemudian kembali hidup? Atau ada orang yang mati kemudian bangkit? Ketahuilah, hari akhir ada di depan kalian.  Persangkaan adalah perbedaan yang kalian katakan. Hiasilah tanah haram ini dan agungkan dia, peganglah erat-erat dan jangan berpecah belah menjaganya, akan datang untuk tanah haram ini bangunan agung dan akan keluar dari tanah haram ini seorang nabi yang sangat dimuliakan." 

Ka'ab bin Luayyi adalah pembesar Quraisy keturunan Bani Hasyim dan keturunan inilah nabi Muhammad dilahirkan. Ka'ab bin Luayyi jauh-jauh hari, berpuluh-puluh tahun sebelum lahir nabi Muhammad SAW sudah begitu yakin dan percaya akan adanya cahaya kebenaran yang mengubah dunia. Dia sudah membaca akan datangnya seorang nabi dari keturunannya. 

"Dan hari Jumat dijadikan sebagai kesempatan untuk memberikan pesan-pesan kepada kaumnya atau dalam istilah sekarang adalah majelis taklim," jelas Ustaz Saifuddin.

Selasa, 19 September 2023

Sejarah Singkat Peringatan Maulid Nabi Muhammad


Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. atau Maulid Nabi SAW. diyakini telah dikenal oleh masyarakat muslim Arab, setidaknya sejak tahun kedua hijriah. Namun ada pula yang meyakininya peringatan maulid telah ada sejak zaman Nabi SAW.

Terdapat beragam versi mengenai awal mula peringatan Maulid Nabi SAW. Sebagian berpendapat, peringatan tersebut dilakukan pertama kali pada saat dinasti Fatimiyah berkuasa. Tapi ada pula yang berpendapat dimulai sejak masa Salahudin Al-Ayyubi.

Salah satu pendapat disampaikan oleh Ahmad Tsauri dalam buku "Sejarah Maulid Nabi" (2015).

Menurutnya perayaan maulid Nabi SAW. sudah dilakukan masyarakat muslim sejak tahun kedua Hijriah.

Catatan tersebut merujuk pada kitab "Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa" karangan Nuruddin Ali.

Disebutkan, Khaizuran atau Jurasyiyah binti 'Atha (170 H/786 M) yang merupakan istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas juga ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah.

Khaizuran memerintahkan agar penduduk Madinah mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. di Masjid Nabawi.

Dari Madinah, Khaizuran kemudian pergi ke Mekah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Mekah untuk merayakan Maulid Nabi SAW. di rumah-rumah.

Karena pengaruhnya yang besar itu, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat muslim Arab untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran dan kepemimpinan Nabi SAW. dapat terus menginspirasi umat Islam.

Sebagian besar ulama meyakini, Nabi Muhammad SAW. dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, Tahun Gajah (570 M). Maka setiap tanggal tersebut diperingati dengan Maulid Nabi SAW.

Maulid Nabi di Indonesia
Maulid Nabi SAW. juga diperingati oleh sebagian kaum muslim di dunia, termasuk Indonesia.

Peringatan Maulid Nabi SAW. dilakukan dengan berbagai cara dan ekspresi. Di masyarakat Jawa, Maulid Nabi dirayakan dengan membaca manakib Nabi SAW. di dalam sejumlah kitab seperti Barzanji, Simthud Durar, Diba’, Syaroful Anam, Burdah, dan lainnya.

Selesai itu, biasanya masyarakat menyantap makanan bersama-sama yang disediakan secara gotong royong oleh warga.

Masyarakat Muslim tidak hanya bergembira merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW., tapi juga bersyukur atas teladan, jalan hidup dan tuntunan yang dibawa oleh beliau.

Di sejumlah tempat, seperti di keraton-keraton di Jawa, peringatan Maulid Nabi biasa disebut dengan Grebeg Mulud.

Di Sulawesi Selatan, Maulid Nabi SAW dirayakan dengan istilah Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Perayaan ini diselenggarakan bahkan lebih ramai daripada hari raya Idul Fitri.

Dalam perayaan tersebut, warga mengarak replika perahu Pinisi yang dihias dengan beraneka ragam kain sarung dan dipamerkan di tepi sungai.

Sejumlah daerah telah terbiasa merayakan Maulid Nabi di sana. Seperti Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Setelah dipamerkan, replika perahu diarak warga keliling desa. Sepanjang acara tersebut tetabuhan gendang atau seni musik Gandra Bulo khas masyarakat lokal terus diperdengarkan.

Maudu Lompoa melambangkan sejarah masuknya Islam di wilayah selatan pulau Sulawesi yang dibawa oleh para pedagang Arab.

Meskipun masih terdapat perdebatan di kalangan ulama terkait perayaan Maulid Nabi ini, tapi bagi kebanyakan umat Islam merayakan Maulid Nabi mempunyai makna spiritual dan edukasi.

Momentum ini menjadi kesempatan bagi kaum muslimin untuk mempelajari lebih jauh tentang kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Sumber:

Ahmad Tsauri, Sejarah Maulid Nabi: 2015

Sabtu, 09 September 2023

Keutamaan Sholat di Masjid

Sholat merupakan rukun Islam kedua yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama ini. Terlebih dalam sholat berjamaah yang dilakukan oleh seorang mukmin, ada beragam tujuan yang akan menghasilkan kebaikan pada dirinya.

Bagi orang yang sholat berjamaah maka akan disiapkan surga baginya. "Barang siapa pergi ke masjid pada awal dan akhir siang, maka Allah akan menyiapkan baginya tempat dan hidangan di surga setiap kali dia pergi." (HR Bukhari dan Muslim).

Sholat berjamaah 27 derajat lebih baik, dari Ibnu Umar, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sholat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada sholat sendirian." (HR Al-Bukhari).

Rajin sholat berjamaah juga artinya mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah. Terdapat sebuah atsar dari dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu, beliau berkata:

"Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah sholat ini (yakni sholat jamaah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyariatkan bagi Nabi kalian SAW sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan sholat jamaah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi)".

Seandainya kalian sholat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan sholat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat. (HR Muslim).

Sholat berjamaah juga bertujuan untuk mendapat pahala yang berlipat ganda, menaikkan derajatnya dan malaikat bershalawat kepadanya. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

"Sholat seorang laki-laki dengan berjamaah akan dilipat-gandakan 25 (dua puluh lima) kali lipat daripada sholat yang dilakukan di rumah dan di pasarnya. Yang demikian itu, apabila seseorang berwudhu, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian keluar menuju ke masjid, tidak ada yang mendorongnya untuk keluar menuju masjid kecuali untuk melakukan sholat".

Tidaklah dia melangkahkan kakinya, kecuali dengan satu langkah itu derajatnya diangkat, dan dengan langkah itu dihapuskan kesalahannya. Apabila dia sholat dengan berjamaah, maka malaikat akan senantiasa bershalawat (berdoa) atasnya, selama dia tetap di tempat sholatnya (dan belum batal).

Malaikat akan bershalawat untuknya, "Ya Allah! Berikanlah shalawat kepadanya. Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya'. Salah seorang di antara kalian tetap dalam keadaan sholat (mendapatkan pahala sholat) selama ia menunggu datangnya waktu sholat." (HR Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud).

SEJARAH LAHIRNYA RASULULLAH MUHAMMAD SAW

Lahirnya Rasulullah Muhammad SAW ke muka bumi secara tidak langsung mengingatkan kembali sejarah kemanusiaan. Siapa yang lupa sejarah maka akan jahiliyah, makanya Allah menurunkan Rasulullah untuk ke bumi dengan membawa Quran (petunjuk) agar manusia mengenal sejarah dirinya sendiri.

Dengan sejarah kita tahu awal mula penciptaan manusia dan akan berakhir kemana. Beruntungnya kita yang senantiasa mengikuti apa yang Rasulullah kerjakan (Sunnah Rasul.) agar terhindar dari yang namanya Jahiliyah

Dalam beberapa Sirah Nabawiyah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Mekah pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah bertepatan dengan tahun 570 Masehi.

Nabi Muhammad lahir dari orang tua bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Abdullah merupakan seorang saudagar yang sering bepergian ke Negeri Syam.

Akan tetapi Abdullah meninggal dunia saat Aminah mengandung Nabi Muhammad yang baru berusia 2 bulan. Setelah itu, Nabi Muhammad pun lahir tanpa didampingi oleh sang ayah.

Setelah lahir, Nabi Muhammad diserahkan pada Halimah Sa’diah untuk disusukan. Zaman dulu masyarakat Arab memiliki kebiasaan menyusukan anak-anak mereka kepada perempuan desa. Hal ini bertujuan agar anak-anaknya tumbuh di lingkungan pedesaan yang udaranya masih bersih. Nabi Muhammad pun tinggal bersama ibu susunya di dusun Bani Sa’ad selama empat tahun.

Kisah Nabi Muhammad selanjutnya di usia 6 tahun sang ibu pun wafat. Kemudian Nabi Muhammad SAW dirawat oleh kakeknya dari pihak ayah yaitu Abdul Mutalib. Selang dua tahun, sang kakek wafat.

Sejak saat itu Nabi Muhammad SAW dirawat oleh pamannya bernama Abu Thalib yang merupakan salah satu petinggi dari keluarga Bani Hasyim. Nabi Muhammad SAW pun sering ikut berdagang ke Syam bersama pamannya.

Tumbuh dewasa, Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah. Siti Khadijah adalah wanita terpandang, cantik dan berasal dari golongan orang berada di Arab. Nabi Muhammad menikah saat berusia 25 tahun. Sedangkan Khadijah saat itu berusia 40 tahun.

Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu saat usia 40 tahun. Setelah mendapat wahyu dari Allah SWT, Nabi Muhammad SAW pun mulai melakukan dakwah. Pada awalnya, dakwah yang disampaikan dengan cara bersembunyi-sembunyi.

Nabi Muhammad SAW wafat saat berusia 63 tahun. Beliau mengalami sakit dalam beberapa waktu, suhu tubuhnya tinggi dan sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Peristiwa Besar Menjelang Kelahiran Muhammad SAW

Rabiul Awal atau bulan ketiga dalam kalender Hijriyah adalah bulan yang dimuliakan umat Islam. Sebab, di bulan ini Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia sebagai manusia yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan ajaran-Nya.

Jauh sebelum kelahiran Rasulullah, Allah sudah mengabarkan akan kehadiran Nabi akhir zaman. Kedatangan Rasulullah telah disebut-sebut dalam kitab sebelum Al Quran, yakni dalam kitab Taurat dan Injil. Sehingga, para rabi Yahudi dan pendeta Nasrani telah mengenal Rasulullah dari gambaran tentang sifat-sifatnya.

Bahkan, Allah mengatur alam raya sedemikian rupa untuk menyongsong kedatangan misi kerasulan Nabi Muhammad. Terdapat tanda-tanda dan keajaiban yang mengiringi masa-masa menjelang kelahiran Nabi Muhammad.

Nabi lahir pada Senin malam menjelang dini hari, 12 Rabiul Awal, pada tahun gajah atau bertepatan dengan 23 April 571 Masehi, tepatnya dua bulan setelah pasukan gajah menyerang kota Makkah. Sebagian ada yang berpendapat bahwa Nabi lahir pada Senin, 9 Rabiul Awal bertepatan dengan 20 April 571 Masehi. Beliau lahir di kampung Bani Hasyim di kota Makkah.

Namun menjelang kelahirannya, langit dan bumi menyambut dengan gembira. Selain itu, ada sejumlah peristiwa besar yang terjadi di dunia sebagai pertanda akan kelahiran Nabi .

Seperti dikutip dari buku berjudul “Uswatun Hasanah” yang ditulis Haddad Alwi, keadaan di Makkah berubah menjelang lahirnya Nabi. Tarikh Islam melukiskan bahwa pada tahun 570 Masehi, sebagian besar negeri Makkah gersang kerontang.

Dataran Makkah nyaris tak ditumbuhi tanaman selain pohon kurma. Namun, menjelang lahirnya Nabi , hujan tercurah lebat. Tanah di sekitar Makkah menjadi subur dan pohon-pohon menjadi rimbun dan berbuah lebat.

Selanjutnya, tanda yang terlihat pada tahun kelahirannya adalah peristiwa datangnya pasukan gajah di bawah pimpinan Abrahah, penguasa Habasyah (Ethiopia), yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Dikisahkan, Abrahah adalah raja yang kejam dan arogan. Ia menyerang Yaman dan berhasil menguasainya. Ketika ia mendengar orang-orang pergi haji ke Baitullah di Makkah, timbul keinginannya untuk membangun rumah suci di Yaman dengan maksud mengalihkan perhatian orang-orang agar berhaji ke Yaman dan bukan ke Makkah.

Sementara itu, ada seorang badui yang datang dan membuang kotoran binatang di rumah suci buatan Abrahah itu. Lantas, Abrahah yang merasa dihina bertekad membalas dendam dengan menyerang Ka’bah.

Beberapa bulan menjelang kelahiran Nabi Muhammad, Abrahah dan pasukannya bergerak menuju Makkah hendak menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi, Allah menggagalkan penyerbuan itu dengan mukjizat seperti dikisahkan dalam Alquran surah al-Fil. Saat itu Ka’bah tanpa perlindungan manusia sama sekali, lantaran penduduk Makkah mengungsi ke bukit-bukit.

Saat hampir sampai ke kota Makkah, gajah-gajah itu berhenti dan berbalik mundur dengan izin Allah. Lalu, langit penuh dengan kawanan burung Ababil yang datang dengan melemparkan batu-batu kerikil panas ke arah Abrahah dan pasukannya. Sehingga, Abrahah dan pasukannya hancur. Abrahah sendiri dikatakan lari kembali ke Yaman dan tak lama kemudian meninggal dunia.

Selain itu, menjelang detik-detik kelahiran Nabi, benteng-benteng kezaliman mengalami kegoncangan. Misalnya, api suci yang dipuja-puja oleh orang Majusi atau zoroaster di kuil pemujaan di Persia tiba-tiba padam. Api Majusi itu dikisahkan selalu menyala hingga hampir seribu tahun.

Di tempat lain, air Danau ‘A’ yang dikultuskan orang-orang Persia tiba-tiba surut dan akhirnya kering. Sementara serambi-serambi istana Kisra (raja Persia) yang merupakan pusat kezaliman dan kekafiran dunia tiba-tiba retak dan runtuh.

Sementara itu, diriwayatkan bahwa pada malam kelahiran Nabi, bumi mengguncang sehingga berhala-berhala yang terpancang di sekitar Ka’bah jatuh bergelimpangan dan berhancuran.

Dalam waktu yang sama, pada malam kelahiran Nabi Muhammad, Tasik Sava atau semenanjung yang dianggap suci oleh orang Persia, tenggelam ke dalam tanah.

Selain itu, terjadi peristiwa menggemparkan di kerajaan Romawi, di mana beberapa buah gereja dan biara tiba-tiba runtuh. Demikianlah Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya akan datangnya sosok penutup para Nabi yang akan menggoyahkan benteng-benteng kezaliman dan penyempurna ajaran-ajaran sebelumnya.

Demikian artikel tentang Kelahiran dan peristiwa besar yang terjadi menjelang lahirnya Nabi Muhammad SAW semoga bisa menjadi pembelajaran besar dan tumbuh semangat agar terus bisa menjalankan apa yang diperjalankan oleh beliau. Aamiin

sumber : https://site.amalsholeh.com/sejarah-rasulullah-muhammad-saw/ 

Implementasi Makna Peringatan Maulid Nabi dalam Kehidupan

Maulid Nabi merupakan sebuah peristiwa peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awwal dalam kalender Hijriah. Peringatan Maulid Nabi dilaksanakan sebagai bentuk cinta kasih umat Islam kepada Nabi Muhammad saw. Umat Islam yang tersebar di seluruh belahan dunia memperingati Maulid Nabi dengan penuh sukacita, tak terkecuali dengan Indonesia.

Di Indonesia, Maulid Nabi merupakan salah satu hari penting bagi umat Islam. Dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw, tiap daerah Indonesia biasanya melangsungkan tradisi perayaannya masing-masing, seperti tradisi Sekaten di Yogyakarta, tradisi Panjang Jimat di Cirebon, ataupun tradisi Bunga Lado di Padang. Seluruh kegiatan tersebut tentu sebagai wujud rasa syukur serta kegembiraan umat Islam atas kelahiran Nabi Muhammad saw ke dunia ini. Akan tetapi, hal yang perlu pahami adalah bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sebatas sebagai rutinitas atau seremonial belaka, melainkan terdapat nilai yang sangat penting di dalamnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan terhadap kelahiran Nabi Muhammad saw ternyata bukanlah tradisi yang ada ketika Rasulullah saw masih hidup, sebagian sumber menjelaskan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi adalah Malik Mudhaffar Abu Sa’id Kukburi. Sementara itu, sebagian pendapat lainnya menyebutkan bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi yang pertama kali melakukan peringatan Maulid Nabi. Adapun versi lain menyebutkan bahwa kemunculan Maulid Nabi terjadi pada masa Dinasti Daulah Fathimiyah di Mesir pada akhir abad 4 Hijriyah atau 12 Masehi.

Maulid Nabi berasal dari dua kata bahasa Arab yakni Maulid dan Nabi, kata Maulid memiliki makna yang sama dengan kata milad yang berarti “lahir” atau “kelahiran”, dan Nabi yang dimaksud adalah Nabi Muhammmad saw, dari pengertian tersebut dapat dimengerti bahwa Maulid Nabi sebagai kegiatan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw yang dilakukan dengan mengenang kembali sejarah dan perjuangan Rasulullah saw.

Ketika mengadakan acara Maulid Nabi, tentu sangat banyak makna yang dapat diambil untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya terkait 4 sifat terpuji yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Shiddiq memiliki arti jujur. Sikap ini adalah sebuah sikap esensial yang harus dimiliki oleh setiap orang, mengapa demikian? Karena kejujuran merupakan sebuah modal utama untuk dapat percaya satu sama lain. Yang kedua adalah amanah yang berarti dapat dipercaya. Selain memiliki sifat jujur, seseorang harus berusaha agar dirinya dapat dipercaya dalam mengemban suatu tugas. Sifat amanah yang dimaksud adalah melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya dengan penuh tanggung jawab. Ketiga, tabligh yang berarti menyampaikan. Seseorang harus dapat menyampaikan amanah yang diberikan kepada orang yang berhak menerima amanah tersebut. Terakhir, fathonah yang berarti cerdas. Cerdas bukan berarti terkait pembelajaran akademik saja, tetapi juga tentang cara seseorang untuk dapat memanfaatkan peluang yang ada di dalam hidupnya, atau terkait mencari solusi yang tepat terhadap sebuah masalah yang sedang dihadapinya.

Selain meneladani sifat Nabi Muhammad saw di atas, masih terdapat banyak hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk merealisasikan makna Maulid Nabi dalam kehidupan. Bershalawat juga merupakan hal penting sebagai wujud cinta kepada Nabi Muhammad saw. Dengan bershalawat, seseorang akan mendapatkan berbagai kemuliaan seperti dijanjikan pahala berlipat oleh Allah Swt, diangkat derajatnya, bahkan Allah menjanjikan akan mengumpulkan orang yang gemar bershalawat bersama Nabi Muhammad saw di surga. Kemuliaan-kemulian tersebut dapat diraih dengan sangat mudah, yang terpenting adalah niat agar dapat selalu bershalawat di setiap waktu yang ada.

Kemudian, makna Maulid Nabi yang tak kalah penting adalah melestarikan ajaran serta misi perjuangan Nabi Muhammad saw, juga para Nabi sebelumnya. Rasulullah saw telah mengerahkan seluruh jiwa raga dan hartanya demi menyampaikan ajaran Allah Swt kepada umatnya. Bahkan Rasulullah saw juga mewariskan Al-Quran dan sunnah Nabi sebagai pedoman hidup agar terhindar dari kesesatan.

Oleh karena itu, hal yang saat ini harus dilakukan oleh umat Islam adalah memperdalam ajaran Islam sebagai bekal menjawab persoalan-persoalan rumit yang bermunculan dalam kehidupan agar terhindar dari tipu daya kenikmatan sesaat yang menjerumuskan diri pada siksa api neraka.(Bimas Islam Bllg)

Senin, 15 Mei 2023

Memakmurkan Masjid

Oleh: Dzikri Nirwana*

Masjid adalah tempat yang paling baik di muka bumi. Masjid adalah rumah Allah swt., tempat yang sangat mulia dan sangat utama untuk kegiatan ibadah umat Islam seperti sholat, berdzikir, bersholawat, dan majlis ta’lim. Karena itulah, Allah swt, begitu sangat mencintai masjid dan orang orang yang berjalan menuju masjid untuk beribadah. Dalam Q.S. al-Tawbah: 18 Allah swt. berfirman, yang artinya; “Sesungguhnya hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. Selain itu, dalam hadis disebutkan riwayat al-Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudry, bahwa Rasulullah saw. bersabda, yang artinya, ”Apabila kamu melihat seseorang biasa pergi ke masjid maka saksikanlah ia benar-benar beriman, karena sesungguhnya Allah swt. berfirman; Sesungguhnya hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”.

Baik ayat al-Qur’an maupun sabda Nabi Muhammad saw. tadi, memberikan pemahaman bahwa pergi ke masjid untuk beribadah merupakan bukti nyata keimanan seseorang. Belum dikatakan sempurna iman seseorang jika dia tidak pernah atau jarang sekali pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah. Dengan demikian, maka yang dimaksud dalam ayat ini dengan ‘memakmurkan masjid’ tidak hanya sekadar menyukseskan pendirian dan perbaikan fisik masjid, tetapi yang lebih mendasar adalah mengunjungi masjid untuk melakukan berbagai aktivitas ibadah demi kemakmuran masjid tersebut. Dalam syariat Islam seorang muslim misalnya, sangat dianjurkan untuk shalat berjamaah di masjid lima kali sehari, bahkan pahala shalat berjamaah di masjid memiliki keutamaan pahala berlipat-lipat sampai dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat sendirian di rumah. Ditambah lagi ‘bonus’ pahala melangkahkan kaki menuju masjid, beri’tikaf di dalamnya yang bernilai ibadah, Karena itu, wajar jika rutinitas mengunjungi masjid merupakan salah satu indikasi tingginya keimanan seseorang. Di era yang penuh dengan kecanggihan teknologi saat ini, sangat mudah untuk mendapatkan akses dalam memakmurkan masjid. Bahkan sebetulnya, tidak ada alasan lagi untuk sulit pergi ke masjid, mengingat banyaknya masjid yang dibangun oleh umat Islam untuk kemudahan beribadah.

Secara fisik, bangunan mesjid yang berdiri sekarang sudah dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap dan memadai, dari tempat sholat yang nyaman dengan karpet sajadah yang bagus, penerangan lampu listrik yang bagus bahkan terkesan mewah bila malam hari, sirkulasi udara yang menyejukkan jama’ah dengan kipas angin dan AC. Tidak hanya itu saja, di masjid juga dilengkapi dengan tempat wudhu dan toilet yang nyaman, lahan parkir yang cukup luas untuk pengunjung kendaraan bermotor dan mobil. Secara fungsional, masjid juga difasilitasi dengan adanya petugas pemakmur masjid, seperti imam shalat fardhu dan bilal atau muadzin, petugas kebersihan, dan lainnya. Kemudian juga dicanangkan sejumlah program keagamaan, seperti pembelajaran baca tulis dan tahfizh al-Qur’an, majelis taklim, majelis shalawat dan dzikir, peringatan hari besar Islam, sehingga masjid pun dapat terjalankan fungsinya dan dapat ditakmirkan sebagaimana mestinya.

Dengan begitu lengkapnya fasilitas, sarana dan prasarana masjid tersebut, maka tentunya rumah Allah ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh umat Islam untuk memaksimalkan kegiatan ibadah dalam rangka mentakmirkan masjid tersebut. Namun memang disayangkan, tidak begitu banyak umat Islam yang memanfaatkan fasilitas ini. Untuk shalat berjamaah saja misalnya, belum begitu banyak jama’ah yang memadati masjid kecuali sebagiannya saja, bahkan ada beberapa masjid yang kosong dari jamaah pada shalat-shalat tertentu. Masih ada dari umat ini justru lebih mementingkan pekerjaan duniawi daripada meluangkan waktu untuk pergi ke masjid menunaikan shalat berjama’ah. Demi sebuah profesionalisme, terkadang perintah agama yang satu ini di nomorduakan, atau bahkan nomor sekian dari kegiatan-kegiatan lainnya.

Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya memakmurkan masjid ini harus dimulai sejak dini, terutama para remaja dan pemuda generasi melenial yang sekarang cenderung mengabaikan hal ini. Kesadaran tersebut tentunya harus dimunculkan dari mereka melalui kegiatan-kegiatan dakwah, pengajian, dan majelis taklim. Kita patut juga berbangga bahwa masih banyak generasi melenial yang hatinya terpaut dengan masjid. Seperti itulah rumah Allah yang seharusnya dipenuhi oleh jama’ah yang ingin dekat dengan Allah SWT. untuk menampung aktivitas umat, juga menyatukannya sebagai sebuah kekuatan Islam yang luar biasa. Maka alangkah indahnya bila setiap masjid yang didirikan tidak saja dibangun untuk sebuah hiasan belaka. Alangkah berkahnya bila masjid-masjid besar dan kecil yang ada, selalu di penuhi dengan jama’ah yang melaksanakan aktivitas ibadahnya. Sungguh, mungkin negeri ini akan jauh dari bencana, karena keberkahan yang terpancar dari ketakwaan umatnya. Dalam sebuah riwayat dari al-Dar al-Quthni dari Anas bin Malik, secara marfu’ disebutkan bahwa “jika Allah menghendaki untuk mengazab suatu kaum, lalu Dia melihat kepada ahli mesjid, maka Dia tangguhkan azab itu kepada kaum tersebut”.

Seperti apapun bentuknya, masjid harus dirawat dan ‘dihidupkan’ kegiatan ta’mirnya. Menggiatkan berbagai aktivitas keagamaan yang didasari semangat penghambaan kepada Allah swt., akamn menjadi sentra pemberdayaan dan pembinaan umat, yang pada akhirnya masjid tersebut akan memainkan fungsinya sebagai salah satu pilar kebangkitan umat. Maka memakmurkan masjid bagi kaum muslimin, tentunya tidak hanya di bulan Ramadhan dan Jum’at saja, namun mengusahakannya di setiap waktu, terutama sholat fardhu yang lima. Dengan begitu berarti kita juga melatih diri untuk sholat tepat waktu, dengan berjama’ah atau bersama saudara seagama, dan semakin mempererat ukhuwah islamiyah atau persaudaraan dengan sesama saudara muslim. Dalam shalat berjama’ah tidak akan ada lagi perbedaan pangkat dan jabatan, kaya ataupun miskin. Sudah sekarang saatnya umat Islam, baik anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua untuk memakmurkan masjid sebagai jalan menggapai surga dunia dan akhirat.

*Profil Penulis

Nama lengkap beliau adalah Dr. Dzikri Nirwana, S.Th.I., M.Ag., lahir di Banjarmasin, pada tanggal 27 Desember 1978. Profesi beliau adalah sebagai dosen tetap pada Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin dengan NIDN 2027127801.

Pendidikan tinggi yang ditempuh oleh Dr. Dzikri Nirwana, S.Th.I., M.Ag. dimulai dengan meraih gelar kesarjanaaan (S1) pada Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin tahun 2002, kemudian melanjutkan jenjang magister (S2) pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin pada Prodi Filsafat Islam dan selesai tahun 2006. Setahun berikutnya, beliau melanjutkan lagi pada jenjang doktoral (S3) dan mendapatkan beasiswa studi dari Kementrian Agama pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya dengan mengambil Prodi Tafsir Hadis dan akhirnya merampungkan studinya tahun 2011.

Selama bertugas di kampus IAIN (sekarang UIN) Antasari Banjarmasin, Dr. Dzikri Nirwana, S.Th.I., M.Ag. mengampu sejumlah mata kuliah yang relevan dengan keahliannya, yaitu hadis dan ilmu hadis, dari jenjang sarjana (S1) hingga magister (S2) dan doktor (S3). Untuk kajian hadis, mata kuliah yang diampu beliau seperti hadis-hadis akidah, hadis-hadis tafsir, dan hadis-hadis tematis. Untuk kajian ilmu hadis, mata kuliah yang diajarkan seperti Pengantar Studi Hadis, Qawa’id al-Tahdits, Metodologi Penelitian Hadis, dan lainnya.    Selain mengajar, Dr. Dzikri Nirwana, S.Th.I., M.Ag. juga aktif melakukan beberapa penelitian yang umumnya bersifat kolektif. Kemudian dia juga telah mempublikasikan banyak karya ilmiah, baik dalam bentuk buku maupun artikel jurnal, baik yang sifatnya individual maupun kolektif.